Jumat, 14 Juni 2013

PENANGANAN PASIEN KASUS DEMAM BERDARAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Saat ini, penyakit tular vector (Vector borne diseases) seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, cikungunya, filariasis (kaki gajah), Japanese, bencepalisis dan pes masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia, termasuk Indonesia. Padahal, ini baru satu contoh kasus yang disebabkan oleh nyamuk.
Kondisi tersebut tentu ada sebabnya. Berdasarkan sejumlah penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa terjadinya perubahan iklim global saat ini berpengaruh terhadap perubahan resiko penularan penyakit yang ditularkan oleh vector penyakit terutama nyamuk. Lebih-lebih penularan DBD dan malaria sangat sensitive terhadap perubahan lingkungan.
Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, tetapi konfirmasi virologist baru di dapat pada tahun 1972. Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh provinsi di Indonesia kecuali timor-timur terjangkit penyakit ini.
Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secera sporadis selalu terjadi KLB setiap tahun. KLB terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan incidence rate (IR) = 35,19/100 000 penduduk. Timbulnya penyakit DBD ditengarai adanya korelasi antara strain dan genetic, tetapi ahir-ahir ini ada tendensi agen penyebab DBD disetiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografi, selain faktor genetic dari hospesnya. Selain itu, berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksana DBD secara konvensional sudah berubah.
Sedangkan ISK atau infeksi saluran kemih adalah hampir selalu diakibatkan oleh bakteri aerob dari flora usus. Penyebab ISK bagian bawah atau kritis cystitis (radang kandung kemih) adalah terutama kuman gram negative, yakni untuk bagian terbesar E.coli (kl 80%) pada umumnya seseorang dikatakan menderita ISK bila terdapat lebih dari 100.000 kuman dalam 1 ml urinnya. (Drs. Tan Hoan Tjay, 2007)
B.     Maksud dan Tujuan
Laporan ini membahas analisis DRP (Drug Related Problem) pada kasus tuan A. (lihat kasus pada Bab III), pemilihan alternative terapi yang tepat dan hal-hal yang perlu dimonitoring setelah pemberian obat pada pasien atau Penatalaksanaan Kasus dengan metode FARM

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Teori Umum
Demam dengue adalah demam virus akut yang disertai sakit kepala, nyeri otot, sendi dan tulang, penurunan jumlah sel darah putih dan ruam-ruam. Sedangkan demam berdarah dengue/dengue hemorhagice fever (DHF)  adalah demam dengue yang disertai pembesaran hati dan manifestasi perdarahan. Pada keadaan oarah bias terjadi kegagalan sirkulasi darah dan penderita jatuh dalam syok hipovolemik akibat kebocoran plasma. Keadaan ini disebut dengue shock syndrome (DSS). (Sandina, 2011)
Tanda atau gejala penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) (1) Gejala pada masa akut (hari ke-1, 2, dan ketiga) adalah “demam” ditambah dengan gejala KLMNO (P) yaitu: Demam, Kepala nyeri, Lemah, Mual muntah, Nyeri Otot dan sendi, Pusing, dan perdarahan spontan jarang terjadi pada masa akut. (2) hati (hevar/liver) pada DBD membesar sejak hari ke-1, 2, 3 dan paling besar pada hari ke4, 5, 6 lalu normal kembali pada hari ke 7, 8 dan seterusnya. (Irianto, 2009)
Infeksi saluran kemih dapat disebabkan oleh bakteri atau jamur dan dapat menyerang uretris, kandung kemih (sistitis), uretra (uretritis), atau ginjal (pilonefritis), ISK dapat berasal dari atas (bakteri masuk ke dalam ginjal melalu aliran darah) atau dari bawah (bakteri masuk ke ginjal melalui uretra). Kebanyakan kasus uretra dimulai dari saluran kemih bagian bawah (kandung kemih dan uretra) dan bila tidak diterapi akan terus menjalar ke saluran kemih bagian atas (ureter dan ginjal). (Depkes RI, 2010)
B.     Uraian Obat-Obat yang Digunakan Untuk Terapi
1.      Ciprofloxasin
Golongan fluorkuinolon dengan spektrum kerja yang luas sebaiknya obat ini digunakan sebagai obat untuk menghindari resistensi dengan pesat.
Obat golongan ini mempunyai mekanisme aksi menghambat DNA gyrase sehingga dapat menghambat proses sintesis DNA bakteri. DNA gyrase merupakan enzim bakterial yang bertanggung jawab terhadap proses pembukaan dan supercoil DNA dan protein bakteri. Quinolon merupakan satu-satunya antibiotik yang menghambat replikasi DNA. Antibiotik golongan ini digunakan pada infeksi saluran kencing.
Efek samping: mual muntah, kadang-kadang terjadi neuritis. Zat ini tidak dapat digunakan bila fungsi ginjal terganggu.
2.      Paracetamol
Derivat asetanilida ini adalah metabolit dari fenasitin yang dahulu banyak digunakan sebagai analgetikum, tetapi pada tahun 1978 telah ditarik dari peredaran karena efek sampingnya (nefrotoksisitas dan karsinogen). Khasiatnya analgetik dan antipiretik, tetapi tidak antiradang. Dewasa ini dianggap sebagai zat antinyeri paling aman, juga untuk suamedika (pengobatan mandiri).
Efek samping: kerusakan hati (dosis besar, terapi jangka lama).
3.      Lameson
Berdaya k.l 20% lebih kuat dari prednisolon (1956) dengan berbagai cara penggunaan oral dan parentral.
Efek Samping: retensi Na, dan cairan, gangguan penyembuhan luka, gangguan metabolisme karbohidrat, lemah otot, osteoporosis.
4.      Metoklopramid
Merupakan antagonis reseptor D-2 Yang digunakan untuk antimual.
Efek samping: reaksi ekstrapiramidal, pusing, lelah, mengantuk, sakit kepala, depresi, gelisah, hipertensi.
5.      Imboos Force
Komposisi Pertablet imboos force: echinacea 250 mg, Zn, picolinate 10 mg.
Efek samping: gangguan GI ringan dan reaksi alergi.
6.      Infus RL
Komposisi/ 1000 ml: Na 130 mEq/L, Cl 109 mEq/L, K 4 mEq/L, Ca 2.7 mEq/L, Laktat 28 mEq/L (NaCl 6 gram), KCl (0,3 g. CaCl2 0,2 g, Na Laktat 3,1 g, API add 1000 ml.) Osmolaritas: 273 mOsm/L.

BAB III
KASUS

           Tuan A. 40 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan demam 39°C. Selama 4 hari pasien mengeluh nyeri dibagian perut, lemas, pusing, mual muntah, terdapat bintik merah di tangan dan kaki. Merasa nyeri dan sensasi panas saat buang air kecil. Tekanan darah pasien 130/80 mmHg. Hasil laboratorium menunjukan nilai trombosit pasien 95 ribu/mm3 dan nilai HT 53,3%. Dokter menyatakan bahwa Tuan A. menderita Demam Berdarah Dengue yang disertai dengan ISK.
Terapi yang akan diberikan kepada Tuan A.oleh dokter adalah
1.      Paracetamol tablet 500 mg 3 kali sehari (bila demam)
  1. Lameson 4 mg 2 kali sehari DBD
  2. Ciprokfloksin 250 mg 2 kali sehari untuk mengatasi ISK
  3. Baquinor 250 mg 2 kali sehari untuk mengatasi ISK
  4. Metoklopramid inj
  5. Amoksilin injeksi untuk DBD
  6. Amoxsan 500 mg 2 kali sehari DBD
  7. Imbos Forces 1 kali sehari
  8. Infus RL


BAB IV
PEMBAHASAN

Penatalaksanaan Kasus Metode FARM
A.    Findings
Sesuai dengan diagnosis dokter yang dilengkapi dengan hasil pengecekan laboratorium, Tuan A. menderita DBD dan  ISK.
1.      Riwayat Penyakit
Demam 39°C, nyeri dibagian perut, lemas, pusing, mual muntah, dan terdapat bintik merah di tangan dan kaki, merasa nyeri (Gejala DBD) dan sensasi panas pada saat buang air kecil (Gejala ISK)
2.      Riwayat Penyakit Dahulu
(Tidak ada dalam laporan perawat/rekam medic pasien)
Terapi yang akan diberikan kepada Tuan A.oleh dokter adalah
1.      Paracetamol tablet 500 mg 3 kali sehari (bila demam)
  1. Lameson 4 mg 2 kali sehari DBD
  2. Ciprokfloksin 250 mg 2 kali sehari untuk mengatasi ISK
  3. Baquinor 250 mg 2 kali sehari untuk mengatasi ISK
  4. Metoklopramind inj
  5. Amoksilin injeksi untuk DBD
  6. Amoxsan 500 mg 2 kali sehari DBD
  7. Imbos Forces 1 kali sehari
  8. Infus RL
B.    Assesmant
DRP’s
a)      Obat tanpa Indikasi
Amoxilin untuk DBD yang juga sinonim dengan Amoxan (obat ganda) yang di resepkan dokter adalah antibiotik. Sedangkan DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, dimana penyakit yang disebabkan oleh virus adalah penyakit yang belum dapat diobati hingga sekarang. Sehingga tidak membutuhkan terapi antibiotik dalam kasus ini amoxisilin.
b)      Obat Ganda
Ciprofloxasin dan Baquinor adalah obat yang sama (sinonim). Harus dipillih salah satu.
C.     Resolution
Alternatif terapi yang disarankan oleh kami adalah:
a)      Farmakologi
1.      Paracetamol untuk menurunkan demam, karna biasanya pasien DBD akan mengalami gejala demam dari hari pertama 1-7 hari, sedangkan pasien tuan A. adalah pasien yang mengeluh demam hari ke-4. Kami berkesimpulan bahwa tuan A. masih akan mengalami demam.
Dosis 1-2 tab tiap 4-6 jam diberikan hanya jika Tuan A. demam  >38’C
2.      Ciprofloxasin untuk  ISK (salah satu DRP’s kasus ini adalah dosis ganda terhadap Ciprofloxasin dan Baquinor, kami memilih Ciprofloxasin karena alasan Ciprofloxasin harganya lebih murah)
Dosis 250 mg untuk ISK ringan atau sedang 2x/ hari. Jika tuan A. ISK berat dosis yang diberikan adalah 500 mg 2x/ hari. Pada rekam medik tidak dijelaskan apakah pasien menderita ISK berat atau ringan, juga dari gejala-gejala yang ada tidak dapat kami pastikan apakah pasien menderita ISK berat atau ringan.
3.      Infus RL untuk menghindari dehidrasi karena biasanya pasien DBD mengalami mual dan muntah-muntah yang kemungkinan akan mengakibatkan dehidrasi.
4.      Metoklorpamid untuk mual muntah
3x sehari 10 mg injection (setelah infuse, obat pertama yang diberikan selanjutnya adalah Metoklorpamid ini agar obat yang lain dapat diberikan melalui oral). Obat diberikan secara injeksi karena pasien sudah mengalami mual muntah sehingga jika diberikan per oral reaksi obat tidak akan efektif.



5.      Imbos Force
Vitamin 1x/hari untuk menambah daya tahan tubuh pasien. Karena penyakit DBD disebabkan virus sehingga membutuhkan pertahanan daya tahan tubuh yang baik.
6.       Lameson untuk  inflamasi liver dosis 4 mg 2 kali sehari
Pasien DBD biasanya juga akan mengalami inflamasi hati dan ginjal, sehingga lameson merupakan salah satu pilihan untuk terapi DBD, tatapi pada kasus tuan A. ini rekam mediknya belum menjelaskan secara rinci mengenai ada tidaknya gejala inflamasi pada liver pasien selain nyeri pada perut (misal adanya pembengkakan pada saat meraba bagian perut letak organ hati). Jika telah dilakukan pemeriksaan liver dan terbukti terjadi inflamasi atau jika terjadi perdarahan (mimisan, dll) maka tuan A. segera diberikan terapi lameson ini. Lameson jika diberikan untuk pasien DBD yang disertai ensefalopah dengue untuk mengatasi inflamasi yang terjadi.
(Keterangan: Jika Mual Muntah Terjadi Terus Menerus, Obat-Obat Tersebut Tidak Dapat Diberikan Secara Oral Maka Obat-Obat Tersebut Diberikan Melalui Rute Injeksi)
b)      Non-farmakologi :
1.      Rehabilitasi : (Jika oleh dokter  pasien telah dibolehkan pulang ke rumah)
·         Anjurkan pasien minum cairan dalam jumlah yang banyak untuk mencegah dehidrasi dan menjaga asupan nutrisi yang sesuai (jika pasien telah dapat makan/tidak muntah, infus telah dilepas) juga untuk mempercepat penyembuhan ISK tuan A.
·         Untuk perlindungan, gunakan obat anti nyamuk yg mengandung DEET saat mengunjungi daerah endemi Dengue (Saat pulang ke Rumah) dan  atau gunakan celana panjang dan baju lengan panjang
·         Buang sampah pada tempatnya dan perbaiki tempat penyimpanan air misalnya tempat penampungan (pada saat pasien pulang ke rumah)
·         Batasi paparan nyamuk dengan tidak membiarkan air tergenang dan berada di area terbuka sebelum matahari terbit dan terbenam dan cegah perkembangbiakan nyamuk melalui pemberian dan penyemprotan berkala insektisida.
2.      Anjurkan untuk pasien menghindari konsumsi minuman beralkohol, minuman ringan (soft drink, makanan yang berempah dan kopi) karena semua makanan atau minuman ini dapat mengiritasi kandung kemih, segera buang air kecil jika keinginan itu timbul dan mencuci tangan dan alat kelamin sebelum dan sesudah berhubungan seksual serta menjalani hidup bersih dengan mencuci anus dan bagian genital sekurang-kurangnya sekali sehari, terutama sesudah BAB.
D.    Monitoring
1.      Masih ada gejala penyakit atau tidak
Mual muntah, nyeri perut,  lemas, dan pusing  atau tidak. Kenormalan Trombosit sudah naik atau belum dari 95 ribu (Normal di atas 150 ribu), HT sudah turun dari 53,3%atau belum (N 4%),  Masih ada bintik bintik atau tidak, Sudah terjadi penurunan Demam atau tidak (Jika terjadi demam di hari ke 5)
2.      Fungsi Ginjal
Perhatikan pengeluaran kencing penderita, apabila kencing penderita banyak (jumlahnya biasa) berarti penderita dalam kondisi “baik”. Sebaliknya, bila tidak dapat/ sangat jarang kencing (pengeluaran sedikit), menunjukan tanda yang “memburuk” untuk DBD secara umum dan untuk ISK secara khusus apakah masih disertai nyeri pada saat kencing atau tidak.
3.      Efek-efek samping obat
Ada atau tidaknya mual muntah, kadang-kadang terjadi neuritis. Zat ini tidak dapat digunakan bila fungsi ginjal terganggu, retensi Na, dan cairan, gangguan penyembuhan luka, gangguan metabolisme karbohidrat, lemah otot, osteoporosis, reaksi ekstrapiramidal, pusing, lelah, mengantuk, sakit kepala, depresi, gelisah, hipertensi, gangguan GI ringan dan reaksi alergi.





BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Tuan A menderita DBD yang disertai dengan ISK, terdapat beberapa DRP’s atas terapi yang diberikan oleh dokter diantaranya adalah penggunaan obat ganda (Ciprofloxasin dan Baquinor) dan obat tanpa indikasi (antibiotik amoxilin dan amoxan yang juga merupakan obat ganda). Sehingga kami menyarankan pilihan terapi: paracetamol, Ciprofloxasin, infus RL, metoklorpamid, imbos force dan lameson saja.
B.    Saran
1.      Sebaiknya dilakukan pemeriksaan liver, apakah terjadi inflamasi atau tidak pada tuan A lebih dahulu, agar dapat dipastikan obat lameson tepat indikasi atau tidak .
2.      Meminta petugas yang berwenang untuk memastikan pasien tuan A. menderita ISK berat atau ringan, agar dapat ditentukan ketepatan dosis Ciprofloxasin yang akan diberikan.


DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2010. Mims Petunjuk Konsultasi. BIP Kelompok Gramedia. Jakarta.
Hastuti Oktri. 2008. Demam Berdarah Dengue. Kamisius. Yogyakarta
Irianto Kus. 2009. Parasitologi. Penerbit Cv Yirama Widya. Jakarta.
Nadesul Handrawan. 2004. 100 Pertanyaan dan Jawaban Demam Berdarah.   Penerbit Buku Kompas. Jakarta.
Nugroho Endro Agung. 2012. Farmakologi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Sandina Dewi. 2011. 9 Penyakit Mematikan. Penerbit Smart Pustaka. Yogyakarta.
Zulkoni Aksin. 2011. Parasitologi. Nuha Medica. Yogyakarta

GAMBAR ANATOMI TUBUH MANUSIA


Selasa, 04 Juni 2013

INTERAKSI OBAT




LAPORAN HASIL PRAKTIKUM
 FARMASI KLINIS


INTERAKSI OBAT



DISUSUN OLEH:
KELOMPOK III

M. GUSTI ADJIE                              NIM. 211839
MERRY ELISABET                         NIM. 211840
MUSAYITIR                                     NIM. 211841
N. ADHE NOVIE ACHIRIE             NIM. 211842
NUR RASMI                                     NIM. 211850







YAYASAN PENDIDIKAN DAN SOSIAL KALTARA
AKADEMI FARMASI KALTARA
TARAKAN
2013



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada penulisan resep sering beberapa obat diberikan secara bersamaan, maka mungkin terdapat obat yang kerjanya berlawanan. Dalam hal ini obat pertama dapat memperkuat atau memperlemah, memperpanjang atau memperpendek kerja obat kedua.
Karena interaksi obat pada terapi obat dapat menyebabkan kasus yang parah dan kerusakan pada pasien, maka interaksi obat harus lebih diperhatikan dari sekarang dan dengan demikian dapat dikurangi jumlah dan keparahannya.
Masalah interaksi baru menjadi akut sejak baru-baru ini, karena disatu pihak selalu tersedia obat-obat yang lebih berkhasiat yang dapat menimbulkan efek-efek yang tak diinginkan apabila obat-obat ini mempunyai pengaruh yang berlawanan dan dipihak lain baru beberapa tahun yang lalu dikembangkan cara membuktikan interaksi demikian dan juga ditemukan mekanisme-mekanisme yang menyebabkannya. Walau demikian, dibuktikan bahwa istilah interaksi tidak menyatakan apakah berarti negative atau positif. Interaksi obat mudah dilupakan dan bekerja sangat positif, yang dapat merupakan persyaratan untuk terapi yang bermanfaat. Dalam pemakaian sekarang interaksi diartikan hanya interaksi yang tak diinginkan saja.
Selain itu tidak hanya interaksi antar obat dengan obat tetapi juga adakalanya terjadi interaksi dari obat dengan bahan makanan, yang dapat mempengaruhi farmakokinetik obat dan biotransformasi dan lain-lain.

B.     Maksud dan Tujuan
Laporan ini dibuat dengan maksud dan tujuan untuk membahas analisis DRP (Drug Related Problem) pada kasus Ny. F. (lihat kasus pada Bab III), pemilihan alternative terapi yang tepat dan tidak menimbulkan interaksi obat serta hal-hal yang perlu dimonitoring setelah pemberian obat pada pasien atau Penatalaksanaan Kasus dengan metode FARM

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Teori Umum
Bila seorang pasien diberikan dua atau lebih obat, kemungkinan besar akan terjadi interaksi obat-obat tersebut di dalam tubuhnya. Efek masing-masing obat dapat saling mengganggu dan efek samping yang tidak diinginkan mungkin akan timbul. Ada beberapa cara berlangsungnya interaksi obat diantaranya
a)      Interaksi kimiawi. Obat bereaksi dengan obat lain secara kimiawi; misalnya pengikatan fenitoin oleh kalsium, tetrasiklin  oleh logam bervalensi dua, dimerkaprol (BAL) oleh arsen/air raksa dan penisilamin oleh Cu, Pb, atau Au.
b)      Kompetisi untuk protein plasma. Analgetika (salisilat, fenilbutazon, indometasin), klofibrat dan kinidin mendesak obat lain dari ikatannya pada protein dan dengan demikian memperkuat khasiatnya misalnya sulfonamide dan kumarin memperkuat daya kerja tolbutamid dan metotreksat.
c)      Induksi enzim. Obat yang menstimulir pembentukan enzim hati, tidak hanya mempercepat eliminasinya, tetapi juga mempercepat perombakan. Obat lain contohnya adalah hipnotika (barbital) dan antiepileptika (fenitoin, karbamazepin, lamotrigin, felbamat) memperlancar biotransformasi antikoangulansia dan antidepresiva trisiklis (imipramin, amintriptilin) dan menurunkan khasiatnya. Contoh lain adalah hipnotika dan obat-obat rematik yang mengurangi kegiatan fenitoin.
d)     Inhibisi enzim. Zat yang mengganggu fungsi hati dan enzimnya, seperti alcohol dapat memperkuat daya kerja obat lain yang efek dan lama kerjanya tergantung dari enzim tersebut. Alopurinol, yang memblokir ksantin-oksidase pada sintesa asam urat, memperkuat khasiat turunan purin (antaralain obat kanker merkaptopurin) yang justru diuraikan oleh enzim tersebut. Metabolisme alcohol diblokir oleh disulfiram, sulfonylurea (tolbutamida dan lain-lain) dan metronidazol , hingga oksidasi oleh dehidrogenase dihentikan pada tingkat asetal dehida yang kadarnya meningkat dan memberikan efek toksik yang tidak enak.
Selain itu juga adakalanya terjadi interaksi dari obat dengan bahan makanan, yang dapat mempengaruhi farmakokinetik obat. (Tjay dan Kirana, 2007).
      Pengetahuan mengenai pengaruh makanan terhadap kerja obat masih sangat kurang. Karena itu, pada banyak bahan obat masih belum jelas bagaimana pengaruh pemberian makanan pada saat yang sama terhadap kinetika obat. Pada sejumlah senyawa makanan menyebabkan penundaan absorbsi karena perubahan harga pH dalam lambung serta perubahan motilitas usus. Tentang pengaruh komponen makanan terhadap biotransformasi bahan obat, telah banyak dilakukan pada hewan percobaan, tetapi pada manusia hanya sedikit.  (Mutschler, 1999)




BAB III
KASUS

Ny. F 30 tahun datang kedokter dengan keluhan, nyeri pada saat buang air kecil dan sensasi rasa panas di perut ketika lapar selama 2 minggu belakangan ini. pasien merupakan pasien hipertensi yang rutin mengkonsumsi bisoprolol 5 mg 1 kali sehari Ny. Farah adalah seorang pegawai disalah satu bank swasta dikotanya sehingga sangat sulit mengatur pola makan. Dokter mendiagnosis ny. Farah mengalami ISK dan Ulkus Peptikum. Sehingga diberi terapi
1.      Neo-Sanmag Sirup 3 kali sehari I sendok takar
2.      Ciprofloksin 250 mg 2 kali sehari
3.      Simetidin 200 mg 3 kali sehari

          


BAB IV
PEMBAHASAN

Penatalaksanaan Kasus Metode FARM

A.    Findings
Dokter mendiagnosis Ny. Farah mengalami ISK dan Ulkus Peptikum
1.      Riwayat Penyakit
Ny. F datang kedokter dengan keluhan, nyeri pada saat buang air kecil dan sensasi rasa panas di perut ketika lapar selama 2 minggu belakangan ini. Pasien adalah seorang pegawai disalah satu bank swasta dikotanya sehingga sangat sulit mengatur pola makan.
2.      Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien merupakan pasien hipertensi yang rutin mengkonsumsi bisoprolol 5 mg 1 kali sehari
Terapi yang akan diberikan kepada Ny F.oleh dokter adalah
1.   Neo-Sanmag Sirup 3 kali sehari 1  sendok takar
2.      Ciprofloksin 250 mg 2 kali sehari
3.      Simetidin 200 mg 3 kali sehari

B.    Assesmant
DRP’s
1.      Interaksi Obat
Berdasarkan literature MIMS edisi 2010/2011 disebutkan bahwa penggunaan bisoprolol dan cimetidin dapat mengakibatkan interaksi obat yang tidak diinginkan.

C.     Resolution
Alternatif terapi yang disarankan oleh kami adalah:
a)      Farmakologi
1.      Neo-Sanmag Sirup 3 kali sehari 1  sendok takar. Tetap sesuai dengan resep dokter. Untuk mengurangi gejala kelebihan asam lambung seperti mual, nyeri lambung, nyeri ulu hati, kembung dan perasaan penuh pada lambung yang tidak dapat diatasi dengan antasida saja.
2.      Ciprofloksasin 250 mg 2x sehari diberikan antibiotic karena pasien ini didiagnosa mengalami infeksi saluran kemih atau (ISK)
3.      Ranitidin 2 x sehari  150 mg diberikan sesudah makan karena untuk golongan H2 bloker ini menghambat sekresi asam lambung
4.      Bisoprolol tetap diberikan dalam terapi karena Ny. F adalah pasien hipertensi. Tidak diganti karena pertimbangan Ny F telah rutin atas obat tersebut.
b.      Non-farmakologi :
1.      Banyak minum air putih (8-10 gelas/hari) hal ini dapat meringankan gejala hipertensi dan ISK dari Ny. F
2.      Berikan kompres air hangat pada bagian abdomen pasien untuk mengurangi rasa nyeri.
3.      Hindari konsumsi minuman soft drink, makanan berempah dan kopi semua makanan atau minuman serta hal-hal ygdapat mengiritasi kandung kemih
4.      Banyak mengkonsumsi vitamin secara teratur karena vit diketahui dapat mengurangi jumlah bakteri di dalam urine (kecuali vit besifat asam)
5.      Basuh bagian kemaluan dari arah depan ke belakang (anus) 

D.    Monitoring
a)      Efek samping obat yang digunnakan dalam terapi
Diperhatikan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi karena adanya efek samping dari obat diantaranya sakit kepala, pusing, konstipasi dan diare, mengantuk, kebingungan, agitasi, depresi, reaksi hipersensitif, gangguan GI, reaksi anafilaktoid, reaksi hematologik.

b)      Gejala ISK
Masih ada nyeri pada saat buang air kecil atau tidak. Melakukan tes pengecekan apakah di dalam urin masih terdapat bakteriuria diantaranya tes sedimentasi, tes nitrit dan lain-lain.
c)      Gejala ulkus peptikum
Masih terasa nyeri atau tidak pada bagian perut dan pemeriksaan terhadap bakteri Helicobacter pyrori




BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Nyonya F berdasarkan diagnosa dokter dikatakan bahwa ia menderita ISK dan ulkus peptikum (tukak lambung-usus), pasien juga memiliki riwayat sebagai pasien hipertensi yang telah rutin mengkonsumsi bisoprolol. Dokter berencana akan memberikan obat Neo-Sanmag Sirup 3 kali sehari I sendok takar, Ciprofloksin 250 mg 2 kali sehari, dan Simetidin 200 mg 3 kali sehari. Menurut kami pada terapi tersebut terdapat DRP’s berupa adanya interaksi obat dengan obat yaitu interaksi antara obat bisoprolol dan cimetidin.. Sehingga kami menyarankan pilihan terapi: mengganti cimetidin dengan ranitidin, sedangkan obat yang lain tetap mengikuti anjuran terapi dari dokter yaitu neosanmagh, ciprofloxasin dan bisoprolol.
B.     Saran
1.      Dalam hal ini pasien dengan diagnosa ISK dan ulkus peptikum keduanya berhubungan dengan bakteri, sehingga ketakutan atas resistensi ntibiotik amoxicillin harus tetap diperhatikan.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2010. Mims Petunjuk Konsultasi. BIP Kelompok Gramedia. Jakarta.
Mutschler Ernst. 1999. Dinamika Obat. ITB. Edisi Kelima. Bandung
Nugroho Endro Agung. 2011. Farmakologi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Tjay Hoan Tan, dkk. 2006. Obat-Obat Penting. PT Elex Kompitindo. Jakarta